Gorontalo — Aktivis muda Gorontalo, Fikri Abdullah, kembali mengkritisi perkembangan kasus dugaan ijazah bermasalah Wakil Bupati Gorontalo Utara, Nurjanah Hasan Yusuf. Menurutnya, ada tanda-tanda yang sangat janggal dalam sikap sejumlah pihak yang sebelumnya vokal, namun kini memilih diam, mundur, atau tiba-tiba menyatakan kasus ini “tidak ada masalah”.
Fikri menyebut perubahan perilaku ini bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa.
“Kalau memang kasus ini bersih, transparan, dan tidak ada apa-apa, pertanyaannya sederhana: kenapa banyak tokoh yang sebelumnya paling keras bicara, kini justru mundur dan bungkam?” ujar Fikri.
Menurutnya, perubahan sikap seperti itu justru semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa ada hal besar yang sedang ditutupi.
Sikap Berubah Mendadak: Dari Keras Mengkritik, Kini Tiba-Tiba Lembut dan Menjauh
Fikri menyoroti tokoh-tokoh yang sebelumnya menyampaikan dugaan ketidaksesuaian tahun kelulusan, dua dokumen ijazah, dan riwayat pendidikan yang tumpang tindih. Mereka bahkan menjadi pihak pertama yang melaporkan kejanggalan tersebut.
“Fakta awalnya jelas. Ada data yang mereka sendiri buka. Ada laporan resmi yang mereka kirim. Tapi sekarang, narasinya berbalik 180 derajat. Ini bukan fenomena wajar,” kata Fikri.
Ia menegaskan, publik sangat berhak mempertanyakan apa yang menyebabkan perubahan drastis tersebut.
“Apakah ada bukti baru yang menghapus kejanggalan itu? Tidak ada. Apakah ada pernyataan resmi dari lembaga pendidikan? Tidak ada. Yang ada justru pernyataan sepihak yang tiba-tiba melunak,” ujarnya.
Fenomena Bungkam Massal yang Tidak Bisa Dianggap Kebetulan
Fikri melihat pola yang terjadi bukan sekadar sikap pribadi para tokoh, tetapi seperti sebuah “gelombang diam” yang seragam.
“Ketika banyak figur mendadak diam pada waktu yang bersamaan, harusnya publik curiga. Dunia ini tidak bekerja dengan kebetulan sebanyak itu,” tegasnya.
Ia menyebut, diamnya para elite justru menambah lapisan kecurigaan bahwa ada upaya untuk meredam isu sebelum sampai pada titik terang.
“Bungkamnya mereka bukan tanda kasus ini selesai, justru tanda bahwa ada sesuatu yang sedang berusaha disembunyikan,” lanjutnya.
Penegak Hukum Diminta Tidak Ikut Terdiam
Fikri meminta Polda Gorontalo untuk tidak ikut larut dalam dinamika diam yang terjadi di kalangan elite.
“Penegak hukum tidak boleh ikut bungkam. Jangan sampai aparat justru mengikuti arah politik, bukan arah bukti,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa publik sudah menunggu terlalu lama, dan ketidakjelasan hanya memperburuk kepercayaan.
Aktivis Siap Mengawal Sampai Kebenaran Terungkap
Fikri menutup pernyataannya dengan komitmen untuk terus mengawal kasus ini, apa pun manuver elite yang terjadi.
“Kami tidak sedang mencari musuh. Kami hanya meminta kejelasan. Kalau kasus ini bersih, tunjukkan buktinya. Kalau ada yang bermasalah, tindak tegas. Diam bukan solusi, dan kami tidak akan berhenti hanya karena sejumlah tokoh memilih bungkam,” tutupnya.











