BERITADAERAHOPINI

BNI Gorontalo: Lembaga Bodoh yang Tak Mengerti Fungsi Mahasiswa

×

BNI Gorontalo: Lembaga Bodoh yang Tak Mengerti Fungsi Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Agung Bobihu
Agung Bobihu

‎BNI Gorontalo telah memperlihatkan kebodohan yang memalukan. Di tengah era keterbukaan informasi dan demokrasi, mereka justru menampakkan wajah arogan yang takut dikritik. Sebuah lembaga negara yang seharusnya berdiri melayani rakyat, malah bertingkah seperti penguasa kecil yang merasa tak tersentuh hukum dan kebenaran.

‎Bagaimana tidak bodoh, ketika seorang pejabat BNI Gorontalo dengan lantang menghina mahasiswa menyebut mereka kecil, tidak mampu melawan BNI, dan tidak berhak beropini di media. Kalimat itu bukan hanya bentuk penghinaan, tapi juga cermin betapa rusaknya mental pejabat publik yang lupa diri.

‎Lebih memalukan lagi, kejadian ini disaksikan langsung oleh Dekan Fakultas Ekonomi beserta jajaran fakultas. Di hadapan para pendidik dan akademisi, BNI Gorontalo memperlihatkan arogansinya secara telanjang. Seolah mereka ingin menunjukkan bahwa kekuasaan dan uang bisa menginjak martabat intelektual. Padahal, di situlah letak kebodohan terbesar mereka karena justru di hadapan para pendidik itulah nilai moral dan akal sehat diuji.

‎Mahasiswa bukan orang kecil, mereka adalah penyalur nurani rakyat. Fungsi mahasiswa adalah mengkritisi, mengawal, dan memperjuangkan keadilan sosial. Menganggap mahasiswa tak berhak bersuara di media sama saja dengan menghina kebebasan akademik, membungkam intelektualitas, dan mempermalukan prinsip demokrasi itu sendiri.

‎BNI Gorontalo gagal paham. Mereka lupa bahwa lembaga mereka hidup dari kepercayaan rakyat bukan dari kesombongan jabatan. Kritik mahasiswa bukan ancaman, tetapi panggilan moral agar lembaga negara tetap berada di jalur kebenaran. Tapi alih-alih mendengar, BNI memilih untuk membentengi diri dengan ego dan rasa takut akan kebenaran.

‎Hari ini, publik melihat sendiri bagaimana BNI Gorontalo memperlakukan mahasiswa. Mereka menertawakan yang lemah, meremehkan yang kritis, dan menindas yang berani bersuara. Tapi sejarah selalu berpihak pada mereka yang berjuang dengan nurani. BNI boleh besar, tapi suara mahasiswa jauh lebih kuat karena ia membawa kebenaran.

‎Kebodohan sejati BNI Gorontalo bukan pada ketidaktahuan mereka tentang fungsi mahasiswa, tapi pada kesombongan mereka yang menolak belajar dari realitas. Dan pada hari kejadian itu, di hadapan dekan dan jajaran fakultas, BNI telah mempermalukan dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *