Jakarta – Proyek kebanggaan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), telah bermutasi menjadi mesin bencana nasional. Janji manis untuk menyehatkan anak-anak miskin kini menjadi horor massal setelah lebih dari sepuluh ribu anak dilaporkan menjadi korban keracunan. Di tengah tangisan para orang tua, negara justru sibuk memainkan angka dan mempertontonkan arogansi busuk yang menusuk nurani.
Ini bukan lagi soal kelalaian, ini adalah kejahatan sistemik. Birokrasi yang panik saling lempar data—BPOM dan BGN merilis angka berbeda—bukan untuk mencari solusi, melainkan untuk mengaburkan skala tragedi yang sesungguhnya. Mereka berlari meluncurkan proyek populis demi citra, namun mengorbankan nyawa anak-anak sebagai tumbalnya.
Dari Istana, Presiden Prabowo Subianto melemparkan statistik dingin yang merendahkan penderitaan, menyebut korban hanya 0,00017%. Di singgasana kekuasaannya, nyawa ribuan anak Indonesia dilecehkan menjadi angka desimal yang tak berarti. Inilah wajah asli kekuasaan yang telah kehilangan kemanusiaannya; sebuah rezim kalkulator yang tuli terhadap jeritan rakyatnya sendiri.
Kebiadaban ini menular sempurna ke bawahannya. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan enteng menyebut perut ribuan anak yang melilit kesakitan “cuma kaget”. Deputi BGN Tigor Pangaribuan menyeringai dengan acungan jempol saat dikejar pertanyaan wartawan. Bahkan, Menteri HAM Natalius Pigai tega menyatakan ini bukan pelanggaran HAM. Sebuah paduan suara kenistaan dari para pejabat yang gajinya dibayar dari pajak rakyat yang mereka sakiti.
Mari kita sebut saja kebenarannya: program MBG adalah proyek bancakan. Dijalankan secara sentralistik dan tertutup, ia menjadi surga bagi para pemburu rente. Rantai pengadaan makanan berubah menjadi rantai korupsi, di mana setiap mata rantai mengambil untung dari porsi makan anak-anak miskin. Kualitas sengaja dikorbankan demi profit, dan anak-anak kita yang membayar harganya dengan kesehatan mereka.
Rakyat tidak marah karena nasi basi. Rakyat murka karena nyawa anak mereka dianggap tidak ada harganya. Rakyat muak karena penderitaan mereka diremehkan, ditertawakan, dan dihapus dengan statistik. Ini adalah puncak dari pengkhianatan kepercayaan publik.
Evaluasi dan audit administrasi adalah omong kosong. Solusinya hanya satu: bongkar semua boroknya! Buka seluruh rantai pengadaan kepada publik. Seret setiap pihak yang bertanggung jawab, dari dapur hingga ke menara kekuasaan. Tanpa itu, program ini akan selamanya menjadi monumen kegagalan moral negara.
Sebuah rezim bisa membangun ibu kota baru, membeli jet tempur termahal, tapi jika ia tak mampu menjamin sepiring nasi yang aman untuk anak-anaknya sendiri, ia adalah rezim yang telah gagal total. Tragedi MBG adalah bukti telanjang bahwa kekuasaan tanpa empati adalah tirani yang paling kejam.











