Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia! (Tanda Kamu Boleh Break Sejenak)
[Oleh: Penulis/Kontributor Kesehatan Mental]
**Disclaimer: Merasa sedih itu wajar, tapi jika berlangsung lama dan mengganggu aktivitas, jangan ragu cari bantuan profesional, ya!
Coba jujur: Berapa kali hari ini kamu melihat quote di media sosial yang bilang, “Hiduplah dalam good vibes only!” atau “Lupakan masalahmu, stay positive!”?
Kita, Gen Z, hidup di era yang seolah-olah menuntut kita untuk selalu on, selalu sukses, dan yang paling parah: selalu bahagia.
Jika kamu merasa sedih, kecewa, atau bahkan marah, tiba-tiba muncul bisikan (atau komentar netizen) yang bilang, “Jangan lebay dong, bersyukur aja, kan banyak yang lebih susah.”
Boom! Itulah yang kita sebut Toxic Positivity. Dan inilah kenapa pola pikir “Harus Bahagia Terus” itu sebenarnya merusak kesehatan mental kita.
1. Memendam Emosi Bikin Mental Auto-Burnout
Mental kita itu seperti cup di Starbucks. Kalau cuma diisi kopi dingin (emosi positif) terus-menerus, cup itu baik-baik saja. Tapi ketika hidup memberi kita extra shots kekecewaan, double shots kegagalan, dan whip cream kecemasan—dan kita berusaha menahannya agar tidak tumpah (dengan memaksakan senyum)—apa yang terjadi?
Cup itu akan pecah.
Rasa sedih, marah, atau kecewa yang tidak diakui akan berubah menjadi beban. Para ahli bilang, menekan emosi negatif justru meningkatkan risiko kecemasan dan depresi jangka panjang. Emosi ini tidak hilang, hanya menumpuk dan menunggu waktu untuk meledak, sering kali dalam bentuk burnout atau serangan panik.
2. ‘Happy Vibes Only’ Itu Bukan Kekuatan, Tapi Penyangkalan
Kita sering menganggap orang yang selalu positif adalah orang yang paling kuat. Padahal, kekuatan sejati bukan berarti tidak pernah merasakan sakit, melainkan berani mengakui dan menghadapi rasa sakit itu.
Bayangkan kamu terluka parah, tapi kamu cuma menutupinya dengan plester kecil sambil bilang, “Aku baik-baik saja!” Luka itu tidak akan sembuh, malah bisa infeksi.
Menerima rasa sedih adalah seperti membersihkan luka. Ini langkah pertama menuju penyembuhan. Saat kita bilang “Aku lagi sedih banget hari ini,” itu bukan tanda kelemahan, itu tanda kejujuran dan keberanian mental.
3. Emosi Negatif Punya ‘Pesan Rahasia’ untuk Kita
Sedih, marah, dan kecewa itu bukan musuh. Mereka adalah sinyal navigasi yang penting dari otakmu.
- Rasa Marah: Seringkali memberitahu kita bahwa batasan pribadi kita telah dilanggar.
- Rasa Kecewa: Menunjukkan bahwa kita perlu mengubah harapan atau tujuan kita ke arah yang lebih realistis.
- Rasa Sedih: Memaksa kita untuk melambat, beristirahat, dan memproses kehilangan atau perubahan.
Kalau kita sibuk memaksakan Happy Vibes, kita akan mengabaikan sinyal-sinyal penting ini. Akhirnya, kita terus mengulang pola yang sama, padahal emosi kita sudah berteriak meminta kita berhenti.
Yuk, Coba 3 Cara Anti-Toxic Positivity Ini:
Tidak ada yang meminta kamu berubah menjadi pesimistis. Kita hanya perlu menjadi realistis dan empati pada diri sendiri.
1. Ganti Narasi (Afirmasi yang Lebih Jujur)
Jika selama ini kamu bilang:
❌ “Aku harus kuat, aku harus bahagia!”
Coba ganti dengan afirmasi yang memvalidasi perasaanmu:
✅ “Aku boleh istirahat. Aku sedang merasa sedih, dan itu wajar. Aku akan memberi ruang untuk perasaan ini, lalu mencari tahu apa yang kuperlukan.”
2. Ciptakan ‘Ruang Aman’ untuk Merasa
Setiap hari, sisihkan 5-10 menit untuk self-reflection (bisa juga sambil journaling). Tulis apa pun yang kamu rasakan tanpa menghakimi.
- Lagi kesel banget sama dosen? Tulis.
- Lagi merasa gagal karena gagal tes? Tulis.
Intinya: Jangan berusaha memperbaiki emosi itu di menit itu juga. Cukup izinkan mereka hadir dan berikan validasi.
3. Kurangi Highlight Reel Media Sosial
Ingat, apa yang kamu lihat di Instagram atau TikTok orang lain hanyalah highlight reel, bukan behind the scene mereka. Ketika kamu mulai merasa sedih setelah scrolling, itu adalah sinyal: matikan HP dan cari koneksi nyata. Telepon teman, hangout di dunia nyata, atau lakukan aktivitas yang benar-benar kamu nikmati.
Pesan Penutup:
Di Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, mari kita sepakati satu hal: Kamu adalah manusia seutuhnya, dan manusia seutuhnya memiliki spektrum emosi.
Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Ambil napas, rasakan apa yang kamu rasa, dan tahu bahwa meminta bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.
Healing bukan tren, tapi kebutuhan. Go get your peace of mind!











