DAERAHOPINI

Kritik terhadap Program Pascasarjana UNG : Kurangnya Ketersediaan Waktu Dosen dalam Mengajar di Program Pascasarjana UNG

×

Kritik terhadap Program Pascasarjana UNG : Kurangnya Ketersediaan Waktu Dosen dalam Mengajar di Program Pascasarjana UNG

Sebarkan artikel ini
Kevin Sulila, Mahasiswa Pascasarjana UNG
Kevin Sulila, Mahasiswa Pascasarjana UNG

Pendidikan pascasarjana adalah jenjang akademik yang menuntut kualitas pengajaran dan pembimbingan yang lebih intensif dan mendalam. Mahasiswa pada tingkat ini tidak lagi hanya membutuhkan transfer pengetahuan, tetapi juga bimbingan intelektual yang mendorong lahirnya pemikiran kritis, penelitian berkualitas, dan kontribusi nyata terhadap ilmu pengetahuan serta masyarakat. Namun, di lingkungan program pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG), salah satu persoalan yang cukup mencolok adalah kurangnya ketersediaan waktu dosen dalam mengajar dan membimbing secara optimal.
Banyak mahasiswa mengeluhkan bahwa jadwal perkuliahan sering kali tidak menentu, molor, atau bahkan tertunda. Sebagian besar dosen yang mengajar di program pascasarjana juga merangkap tugas di tingkat sarjana, atau memiliki jabatan struktural yang menyita waktu mereka. Akibatnya, alokasi waktu untuk mengajar di program pascasarjana menjadi terbatas. Padahal, mahasiswa pascasarjana sangat membutuhkan kehadiran dosen, bukan hanya di kelas, tetapi juga dalam bimbingan riset dan diskusi ilmiah yang rutin.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Proses akademik menjadi kurang maksimal, mahasiswa merasa terbimbing setengah hati, dan pada akhirnya ini dapat menurunkan mutu lulusan pascasarjana UNG.
Permasalahan ini perlu mendapat perhatian serius dari pihak pengelola program pascasarjana UNG. Diperlukan kebijakan yang lebih tegas dan sistematis dalam mengatur beban kerja dosen, memastikan adanya komitmen waktu yang memadai untuk program pascasarjana, serta mendorong dosen untuk menjadikan kegiatan mengajar dan membimbing sebagai prioritas utama, terutama di lingkungan akademik yang mengklaim sebagai pusat pengembangan ilmu.
Kritik ini bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai ajakan untuk refleksi dan perbaikan. Program pascasarjana UNG memiliki potensi besar untuk berkembang, namun potensi itu hanya bisa diwujudkan bila ada keseriusan dalam memperbaiki hal-hal mendasar seperti kehadiran dan ketersediaan waktu dosen. Karena tanpa kehadiran dosen yang aktif dan terlibat penuh, pendidikan pascasarjana hanya akan menjadi formalitas, bukan wadah pembentukan akademisi sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *