EDUKASINASIONALOPINI

Mentalitas yang Terkungkung: Mengapa Kita Sulit Maju sebagai Bangsa?

×

Mentalitas yang Terkungkung: Mengapa Kita Sulit Maju sebagai Bangsa?

Sebarkan artikel ini
Hendrawan Dwikarunia Datukramat, S.Farm. Tokoh Aktivis Muda, Presiden BEM UNG 2023-2024
Hendrawan Dwikarunia Datukramat, S.Farm. Tokoh Aktivis Muda, Presiden BEM UNG 2023-2024

GERAKAN.CO, – Bangsa Indonesia dikenal kaya akan sumber daya alam, ragam budaya, dan jumlah penduduk yang besar. Namun kekayaan ini belum sepenuhnya terkonversi menjadi kekuatan pembangunan yang merata, berkelanjutan, dan progresif. Persoalan yang kita hadapi bukan hanya terletak pada struktur ekonomi atau kebijakan pemerintah semata, melainkan pada satu hal yang lebih dalam dan mendasar: cara berpikir masyarakat yang masih dikungkung oleh warisan mentalitas lama.

Di banyak lapisan masyarakat, budaya yang diwariskan secara turun-temurun tidak lagi dilihat sebagai landasan nilai yang adaptif, melainkan justru menjadi pagar tinggi yang menghalangi pembaruan. Sikap “nrimo”, pasrah, takut salah, dan terlalu hormat pada status quo menjelma menjadi sistem sosial yang mematikan kreativitas dan kemerdekaan berpikir.

Kita tidak sedang kekurangan kecerdasan. Yang kurang adalah keberanian menggugat cara berpikir yang sudah tidak relevan.

Budaya sebagai Belenggu Tak Terlihat

Dalam diskursus publik, budaya kerap dijadikan tameng untuk menolak perubahan. Segala bentuk kritik dianggap sebagai ancaman terhadap “kearifan lokal”, padahal tidak semua yang diwariskan itu masih kontekstual. Banyak nilai dalam masyarakat yang membatasi perempuan, menindas anak muda, melanggengkan senioritas tanpa meritokrasi, dan menormalisasi ketimpangan sosial. Dan karena itu dibungkus sebagai “adat” atau “nilai luhur”, kritik terhadapnya dianggap dosa.

Padahal, bangsa-bangsa yang hari ini kita kagumi—Jepang, Finlandia, Jerman, Korea Selatan—juga punya budaya kuat. Tapi mereka tahu bagaimana memilah. Mana yang dijaga karena menguatkan jati diri, dan mana yang ditinggalkan karena menghambat langkah. Mereka tidak memuja masa lalu secara buta, tapi menjadikannya pijakan untuk melompat lebih tinggi.

Sementara kita, terlalu sering menjadikan masa lalu sebagai tempat berlindung.

Pendidikan: Antara Disiplin dan Ketundukan

Salah satu sektor yang paling nyata menunjukkan krisis ini adalah pendidikan. Sistem pendidikan kita terlalu lama didesain untuk mencetak manusia yang patuh, bukan berpikir. Pelajaran mengutamakan hafalan, bukan pemahaman. Ketaatan lebih dihargai daripada pertanyaan. Guru dianggap tahu segalanya, dan murid tidak diberi ruang untuk membantah. Akibatnya, sekolah menjadi tempat di mana keberanian intelektual justru dikebiri sejak dini.

Di negara-negara dengan indeks inovasi tinggi, pendidikan didasarkan pada rasa ingin tahu, keberanian bereksperimen, dan kebebasan berpikir. Anak-anak diajak berdialog, bukan diperintah. Guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran, bukan pemilik kebenaran tunggal.

Selama sistem pendidikan kita masih menghukum kesalahan dan mengagungkan keseragaman, selama itu pula bangsa ini akan kesulitan melahirkan para pemikir besar, inovator, dan pelopor perubahan.

Kesehatan dan Ekonomi: Dua Pilar yang Diremehkan

Mentalitas lama juga menyentuh bagaimana masyarakat memandang kesehatan dan ekonomi. Banyak masyarakat masih percaya bahwa sakit adalah takdir yang tak bisa dicegah, bukan kondisi yang bisa dikelola. Gaya hidup sehat dianggap “gaya-gayaan”, bukan kebutuhan. Masalah kesehatan mental nyaris tak dibicarakan, apalagi diobati.

Dalam ekonomi, sebagian besar masyarakat masih terjebak dalam siklus bertahan hidup harian. Perencanaan jangka panjang, investasi, atau strategi keuangan bukan bagian dari kebiasaan umum. Bukan karena malas atau bodoh, tapi karena cara berpikir tentang ekonomi masih dibatasi oleh ketidaktahuan yang sistemik.

Kita tidak membangun masyarakat yang siap menghadapi disrupsi ekonomi global, karena sejak awal kita tidak mempersiapkan mental mereka untuk mengelola risiko dan mengambil keputusan jangka panjang. Literasi keuangan dan kesehatan masih menjadi barang mahal yang hanya bisa diakses oleh mereka yang “beruntung” hidup di kota besar.

Apa yang Sebenarnya Kita Takutkan?

Pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa bangsa ini begitu takut berubah? Mengapa berpikir di luar kebiasaan dianggap bahaya? Mengapa orang-orang yang menawarkan sudut pandang baru malah dicurigai, dihujat, bahkan dimatikan ruangnya?

Jawabannya: karena kita telah lama terjebak dalam sistem yang lebih mencintai stabilitas semu daripada pertumbuhan sejati.

Budaya, sistem pendidikan, praktik sosial—semuanya bergerak menjaga keteraturan. Tapi keteraturan yang dibangun dari ketakutan justru menjadi kuburan bagi potensi.

Kita harus berani menyadari bahwa yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar kebanggaan pada masa lalu, tetapi keberanian kolektif untuk membongkar tembok mental yang selama ini membuat kita hanya berputar-putar dalam lingkaran stagnasi.

Menuju Masyarakat Berpikir Merdeka

Perubahan tidak bisa terjadi jika masyarakat tidak diajak untuk berpikir merdeka. Dan berpikir merdeka bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Ia adalah kebebasan yang lahir dari kesadaran, dari kapasitas intelektual untuk memilah, menimbang, dan memutuskan berdasarkan nilai rasional, bukan sekadar kebiasaan.

Kita tidak sedang butuh revolusi besar yang menggulingkan sistem. Kita butuh revolusi senyap dalam cara berpikir. Perubahan-perubahan kecil di ruang kelas, di rumah tangga, di warung kopi, di lembaga pemerintahan, di media sosial—itu semua adalah titik awalnya.

Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah keberanian untuk menggugat cara lama yang tak lagi relevan. Kita tidak akan bergerak maju jika terus terikat pada pola pikir usang yang mematikan potensi.

Dan pertanyaan besarnya sekarang bukan lagi: “Apa yang harus kita ubah?”

Melainkan: “Apakah kita masih mau hidup seperti ini?”

Penulis: Hendrawan Dwikarunia Datukramat, S.Farm (Aktivis Pemuda, Presiden BEM UNG 2023-2024)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *