Gorontalo — Organisasi pemuda Solidaritas Intelektual Generasi Aktivis (SIGA) Gorontalo resmi dilaunching dan langsung menarik perhatian publik. Dikoordinatori oleh Djamaludin Puluhulawa—atau yang akrab disapa Agung—SIGA hadir sebagai ruang baru bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai aktivis yang kritis, berintegritas, dan solid.
Dalam sambutannya, Agung menegaskan bahwa SIGA dibentuk atas kegelisahan kolektif terhadap minimnya ruang belajar aktivisme yang sehat. “Anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi kekuatan intelektual yang mampu membaca masalah, menyuarakan kebenaran, dan berdiri untuk kepentingan rakyat,” ujarnya.
Launching SIGA turut dirangkaikan dengan dialog publik tentang polemik Kepala Puskesmas Sipatana Kota Gorontalo. Dalam pemaparan hasil kajian, SIGA menilai bahwa persoalan yang berkembang selama ini lebih kuat dipengaruhi dinamika staf internal dan lemahnya pengawasan Dinas Kesehatan, bukan murni kesalahan kepala puskesmas. Karena itu, Agung menegaskan bahwa SIGA akan mendatangi Dinas Kesehatan untuk memastikan persoalan ini ditangani secara adil dan berdasarkan fakta.
“SIGA tidak memihak siapa pun, tapi memihak pada kebenaran. Kepala puskesmas terlalu mudah dikambinghitamkan sementara ada struktur dan mekanisme yang seharusnya bertanggung jawab lebih besar,” tegas Agung.
Sebagai daya tarik bagi generasi muda, SIGA Gorontalo menyiapkan berbagai program pengembangan diri, mulai dari pelatihan kepemimpinan, public speaking, manajemen aksi, hingga sekolah advokasi dan diskusi rutin. Tujuannya jelas: mencetak kader muda yang cerdas, berani, dan memiliki solidaritas kuat terhadap persoalan rakyat.
“Kami ingin SIGA menjadi rumah besar gerakan intelektual anak muda Gorontalo. Tempat belajar, tempat bertumbuh, dan tempat bergerak bersama,” tambah Agung.
Dengan antusiasme peserta dan energi solidaritas yang mengalir sepanjang kegiatan, SIGA Gorontalo optimis menjadi lingkaran aktivisme baru yang akan memperkuat suara pemuda di daerah.











